LITERASI ANOMALI

Madilog: Petualangan Pikiran yang Belum Selesai – Bagian 17

Oleh: M Hero Firmansyah

​Sel Padat Berukuran Biji Kopi

​Pasca-gelombang pengkhianatan kedua dari Andi, struktur lingkaran inti gerakan menyusut drastis. Barisan yang kocar-kacir itu kini murni menyisakan lima orang yang kesetiaannya telah diuji oleh tekanan nyata: Rian, Pak Min, Mbak Siti, Pak Toro—yang melangkah keluar dari ruang tahanan dengan gurat wajah kian keriput menahan lebam—serta Pak Harjo yang meski fisiknya kian renta, bersikeras menolak untuk sekadar menjadi penonton sejarah.

​“Biar ukuran barisan kita mengecil,” kata Rian di dalam sebuah gudang perkakas kosong di pinggiran desa, “namun strukturnya harus padat laksana biji kopi. Volumenya sedikit, namun memiliki konsentrasi zat yang sanggup membuat isi kepala orang terjaga dari tidur nyenyak.”

​Melalui kesepakatan internal, mereka memutuskan untuk menginisiasi sebuah ruang klandestin bertajuk: Sekolah Bawah Tanah Madilog. Nama yang terdengar mentereng, namun dieksekusi dalam kenyataan yang teramat sederhana. Pertemuan dirancang berkala seminggu sekali, memanfaatkan ruang rumah penduduk yang berpindah-pindah secara acak. Seluruh aktivitas dilakukan tanpa pengumuman digital, tanpa dokumentasi visual, dan tanpa bentangan spanduk fisik. Yang tersisa hanya obrolan paruh malam, bundel stensilan Madilog yang kian kumal, dan cangkir-cangkir kopi tubruk yang pahitnya sewarna dengan nasib buruh.

​“Malam ini kita membedah fondasi awal Materialisme,” ujar Rian dengan volume suara rendah yang terjaga pada pertemuan pertama. “Mari kita gunakan rasio untuk melihat fakta di sekitar kita: hamparan sawah di desa ini sedemikian subur, namun mengapa para petaninya terlilit utang kepada tengkulak? Konsesi tambang mengeruk laba raksasa, namun mengapa upah harian buruh ditekan di batas bawah bertahan hidup? Semua keanehan ini sama sekali bukan karena kita kurang melayangkan doa ke langit, melainkan karena penguasaan alat produksi yang timpang.”

​Pak Toro mengangguk dalam-dalam sembari mengunyah lintingan tembakau bakonya. “Mutlak tepat. Selama berpuluh tahun hidup, saya dicekoki dogma bahwa rezeki nomor satu itu mutlak urusan Tuhan. Malam ini nalar saya terjaga; rezeki nomor satu pada kenyataannya ditentukan oleh klausul kontrak kerja yang sengaja diputus setiap sebelas bulan.”

​Mbak Siti menimpali dengan aksen pasar yang menusuk dingin. “Yang paling menyesakkan dada adalah melihat tetangga kiri-kanan kita masih sibuk berkhotbah: ‘Syukuri saja apa yang ada, yang paling utama kita masih diberi napas oleh Yang Kuasa’. Mereka lupa menghitung bahwa setiap embusan napas anak-anak mereka hari ini sudah tercemar oleh pekatnya debu nikel pabrik.”

​Senjata Berwujud Kasih Sayang

​Dalam kurun waktu satu pekan berjalan, replikasi sel bawah tanah itu mulai mencatatkan hasil yang nyata. Tiga pemuda tani setempat mulai mengajukan gugatan kritis mengenai skema penentuan harga gabah yang selama ini dimonopoli sepihak oleh jaringan spekulator pasar. Namun sebagaimana hukum sejarah, setiap keberhasilan di akar rumput harus ditebus dengan harga tekanan yang kian mahal.

​Sore itu, ibunya mendatangi gudang perkakas dengan langkah kaki yang goyah dan wajah yang diselimuti pucat kepanikan.

​“Rian… Ibu mohon dengan sangat, berhentilah,” isak ibunya, jemarinya yang gemetar mencengkeram lengan kaos Rian. “Tadi siang ada beberapa petugas administratif mendatangi warung pecel lele kita lagi. Kali ini mereka tidak menggunakan bahasa halus. Mereka mengancam akan memeriksa perizinan dan pajak warung bapakmu secara ketat jika kamu tidak menghentikan gerakan penghasutan buruh ini. Petugas menegaskan… namamu kini telah resmi masuk dalam daftar pengawasan khusus.”

​Rian terpaku dalam keheningan yang dingin. Pak Min melangkah mendekat, meletakkan telapak tangannya yang kapalan di atas pundak sang mahasiswa, menawarkan sebuah pilihan yang realistis.

​“Mas Rian, koordinat pertempuranmu kini telah bergeser ke wilayah rumah,” ujar Pak Min tenang. “Pilihannya kini mutlak: menyelamatkan zona aman keluarga atau melanjutkan garis perjuangan pikiran ini. Jika fajar besok Mas memilih mundur untuk mengamankan warung pecel lele Bapak, tidak akan ada satu pun orang di barak buruh yang akan menyalahkanmu.”

​Kontradiksi Terbesar di Depan Kandang Ayam

​Malam harinya, di area pekarangan belakang rumah yang sunyi, hawa dingin merayap di antara dedaunan. Di samping kandang ayam yang telah senyap, suasana seolah berjalan melambat pekat.

​Siluet Tan Malaka kembali muncul, duduk santai di atas sebuah drum besi bekas sembari mengibas-ngipaskan selembar kertas pamflet usang untuk mengusir hawa malam.

​“Mereka mengalihkan sasaran ke arah garis belakang keluargamu, bukan?” buka Tan Malaka, sebuah senyum kegetiran sejarah terukir di wajah tirusnya. “Sebuah metode tekanan klasik yang telah dipraktikkan selama berabad-abad. Sistem kekuasaan itu sangat memahami batin manusia: kita tidak pernah takut menghadapi ancaman kurungan badan atau kematian pribadi, namun kita akan seketika lumpuh ketika melihat orang-orang yang kita cintai didera penderitaan ekonomi. Ini adalah cara kerja Logika Mistika dalam bentuknya yang paling halus: mempersenjatai kasih sayang rumah tangga untuk membunuh nalar kritis.”

​Rian mendudukkan dirinya di atas tanah kering, menyandarkan kepala pada tiang kayu dengan sisa energi batinnya. “Saya buntu, Bang. Jika saya bersikeras melanjutkan sekolah bawah tanah ini, ruang hidup ekonomi orang tua saya di desa ini akan dihabisi secara birokratis. Namun jika saya mengambil langkah mundur malam ini… seluruh kesadaran buruh yang baru saja mekar akan layu dan berakhir sia-sia.”

​Tan Malaka melepaskan tawa rendahnya—sebuah suara tawa yang terdengar dingin namun sarat akan empati seorang ideolog yang menghabiskan sisa usianya dalam kesendirian pelarian.

​“Inilah koordinat benturan yang paling menyakitkan dalam batin seorang pemikir, Rian,” ujar Tan, sepasang matanya yang tirus menatap tajam langsung ke pusat kesadaran sang mahasiswa. “Asas Materialisme menuntutmu untuk melihat fakta objektif di lapangan: keluargamu membutuhkan kepatuhan ekonomi untuk bertahan hidup esok hari. Namun, hukum dialektika juga memberi peringatan: jika setiap manusia waras memilih untuk menyelamatkan zona aman keluarganya masing-masing di hadapan tekanan, maka struktur penindasan ekonomi ini akan menjadi abadi di tanah republik ini. Logikamu harus mengambil keputusan: mana yang bobot nyatanya lebih besar, penderitaan sesaat atau perbudakan struktur yang permanen?”

​Pria tua itu bangkit dari drum besinya, bayangan tubuhnya perlahan mulai menipis, larut ke dalam kegelapan malam pedesaan.

​“Dulu, di tengah kejaran intelijen fasis, aku dihadapkan pada persimpangan perhitungan yang sama. Namun aku memilih untuk terus menulis, menyelesaikan manuskrip Madilog di dalam gua-gua pengap, meskipun aku tahu keluargaku di kampung halaman didera kecemasan luar biasa. Langkah itu kuambil bukan karena aku memiliki sindrom kepahlawanan yang naif, melainkan karena rasioku memahami satu hal: jika aku memilih takluk dan diam hari itu, maka esok fajar anak cucu dari generasiku akan lahir dan tumbuh sebagai korban berikutnya dari cara berpikir yang sama.”

​Siluet sang pemikir revolusioner hampir sepenuhnya melarut ke dalam lipatan waktu, namun sebaris kalimat pamungkasnya tertinggal di udara sebelum keheningan total kembali berkuasa.

​“Rumuskan keputusanmu dengan kepala yang dingin dan jernih, Rian. Namun pasang barikade pada isi kepalamu: jangan pernah kau jadikan keselamatan keluargamu sebagai bahasa halus untuk menutupi ketakutanmu di hadapan sistem. Jadikan eksistensi keluarga itu sebagai alasan terkuatmu untuk memenangkan pertempuran nalar ini.”

​Rian membuka matanya lebar-lebar, menatap lurus ke arah kegelapan pekat pekarangan desa. Di tangannya, cetakan stensil Madilog terasa dingin sekaligus kokoh. Di dalam rumah, sayup-sayup ia mendengar deru napas orang tuanya yang tertidur dalam kecemasan finansial. Fajar berikutnya akan menuntut akal sehat yang menolak untuk takluk oleh air mata.

(Bersambung)


Catatan Redaksi / Disclaimer:

Seluruh rangkaian narasi dalam serial “Madilog: Petualangan Pikiran yang Belum Selesai” ini merupakan karya fiksi spekulatif yang diinspirasikan dari traktat filsafat ekonomi-politik dalam buku MADILOG karya Tan Malaka.

Garis alur, karakterisasi tokoh (termasuk visualisasi tokoh sejarah), dinamika institusi, waktu, serta koordinat peristiwa yang digambarkan dalam teks ini sepenuhnya adalah rekaan kreatif penulis untuk kolom Literasi Anomali. Jika terdapat kesamaan nama tokoh, tempat kejadian, maupun konformitas situasi linier dengan realitas aktual dalam industri tambang nikel atau kebijakan birokrasi, hal tersebut merupakan kebetulan matematis dan tidak merepresentasikan kebijakan resmi dari institusi mana pun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *