LITERASI ANOMALI

Madilog: Petualangan Pikiran yang Belum Selesai – Bagian 24

Tan Malaka, insert: Emha Firmansyah (GETNEWS./Literasi Anomali/istimewa)

Oleh: M Hero Firmansyah

​Likuidasi Identitas di Garis Pantai

​Identitas biologis Rian sebagai putra kandung Jenderal Suryo menyebar ke ruang publik dengan kecepatan yang mengerikan. Dalam hitungan 12 jam, namanya telah resmi dimasukkan ke dalam daftar buronan otoritas keamanan nasional.

​Tuduhan administrasi yang dijatuhkan terdengar klise namun taktis: menyebarkan pemikiran destruktif yang berpotensi memecah belah persatuan bangsa—sebuah bahasa halus birokrasi yang berarti: rasiomu telah melangkah terlalu jauh mengusik ketenangan sistem tingkat negara.

​Rian, Pak Min, dan Arya melarikan diri ke sebuah pondok nelayan telantar di pesisir selatan Jawa. Aroma pekat ikan asin yang mengering dan deru konstan ombak samudra menjadi latar belakang bising bagi kepala mereka yang didera kelelahan batin yang hebat.

​“Saya membawa darah seorang algojo,” gumam Rian parau, sepasang matanya menatap kosong ke arah bentangan laut yang gulita. “Selama gerakan ini aktif, saya dengan angkuh menceramahi buruh mengenai Materialisme, sementara di dalam pembuluh darah saya sendiri mengalir deras sisa dosa sejarah masa lalu.”

​Arya melangkah mendekat, meletakkan telapak tangannya di atas pundak Rian dengan ketegasan yang kokoh. “Jika hitungan sejarahmu mendeteksi adanya noda darah di sana, maka situasi hari ini adalah momentum paling objektif bagimu untuk membersihkan silsilah darah tersebut.”

​Rekonsiliasi Materialisme Historis

​Bantuan taktis berikutnya justru muncul dari ruang yang sepenuhnya luput dari perhitungan pihak atas.

​Pihak yang bergerak merapatkan barisan ke pondok pesisir itu bukan barisan pemuda kota kelas menengah yang gemar merayakan isu digital, bukan pula barisan buruh tambang yang sempat mereka konsolidasikan. Mereka yang hadir adalah barisan manusia yang memegang sisa-sisa ingatan dari operasi hitam masa lalu ayah Rian.

​Tubuhnya telah membungkuk digerogoti usia 82 tahun, namun sorot mata mantan tahanan politik tahun 1965 itu tetap memancarkan kilat rasio yang tajam. Namanya Mbah Karno. Ia melangkah melintasi pintu pondok dengan bertumpu pada sebatang tongkat kayu rapuh.

​“Saya adalah salah satu orang yang di masa lalu dijemput paksa oleh pasukan pimpinan ayahmu,” buka Mbah Karno, suaranya pelan namun memiliki artikulasi yang kokoh saat mendudukkan diri di atas tikar pandan. “Tubuh saya dihantam lebam, dan keluarga kami tercerai-berai secara brutal. Namun di ruang isolasi ini, saya telah selesai membedah naskah bab terakhir Madilog yang kau rilis ke jagat digital. Tesis Tan Malaka mutlak ilmiah. Jika kita terus merawat dendam batin tanpa batas, maka secara mekanis kita hanya akan berubah menjadi penjelmaan baru dari para penindas itu sendiri. Saya memaafkan riwayat ayahmu… dengan satu syarat nyata: kau wajib mengawal jalannya perjuangan akal sehat ini hingga menyentuh garis akhir.”

​Di belakang bayangan ringkih Mbah Karno, puluhan kepala bergerak masuk secara senyap dalam keheningan malam pesisir. Mereka adalah jajaran para janda aktivis yang dihilangkan, serta anak-anak yang kehilangan figur ayah akibat operasi pembersihan di masa lalu.

​“Kami berdiri di pondok basah ini bukan karena kau menyandang garis darah Jenderal Suryo,” sela seorang ibu paruh baya dengan guratan wajah sewarna tanah. “Kami merapatkan barisan karena rasiomu memiliki keberanian nyata untuk mempublikasikan kebenaran objektif yang bahkan ayah kandungmu sendiri ketakutan untuk mengungkapnya ke muka bumi.”

​Pak Min yang duduk di sudut ruangan tampak menyeka air mata di pipinya yang legam. “Inilah manifestasi hukum sejarah yang paling benderang sekaligus paling menyakitkan bagi kesadaran kita, Mas.”

​Dekonstruksi Berhala Pergerakan

​Namun, ketenangan di dalam pondok nelayan itu kembali dihantam oleh informasi baru yang dikirimkan oleh saluran rahasia. Arya berhasil menangkap selembar dokumen video dari ayahnya sesaat sebelum seluruh jaringan komunikasi di sekitar pesisir diputus total oleh pusat.

​Pak Harjo ternyata masih menyimpan satu kartu taktis di dalam brankas konspirasinya.

​Melalui rekaman video beresolusi rendah yang disebarkan secara anonim, wajah rentan Pak Harjo muncul di depan lensa kamera, menyunggingkan senyuman satirnya yang paling licik:

​“Rian… rasiomu tampaknya terlalu naif dengan menyimpulkan bahwa dokumen bab terakhir yang kau rilis kemarin adalah amunisi paling berbahaya bagi stabilitas negara? Perhitunganmu keliru. Ada satu paragraf penutup yang sengaja ditulis Tan Malaka di halaman paling akhir dari manuskrip tersebut, yang bahkan di masa lalu sengaja saya hilangkan dari pengetahuan ayahmu. Tan Malaka secara radikal merumuskan bahwa seluruh metode Materialisme, Dialektika, dan Logika pada akhirnya akan menemui kegagalan total di tanah republik ini selama massanya menolak melepaskan ketergantungan pada mitos pahlawan tunggal. Termasuk pemujaan terhadap mitos pahlawan bernama Tan Malaka sendiri. Beliau menulis: ‘Jangan pernah kalian bersekongkol untuk mengubah jasadku menjadi berhala atau dewa baru. Aku tidak lebih dari sekadar manusia biasa yang dipenuhi oleh perhitungan kesalahan sejarah’.

​Pak Harjo melepaskan tawa sinisnya yang terdengar memuakkan melalui speaker ponsel:

​“Jika kalian bersikeras melempar lembar penutup ini ke ruang publik, bukan hanya legitimasi birokrasi pemerintah yang akan runtuh. Seluruh narasi heroisme perjuangan kemerdekaan selama delapan puluh tahun akan hilang total. Sebab kenyataannya: massa di negeri ini membutuhkan mitos suci untuk menutupi kecemasan berpikir mereka. Tanpa adanya berhala yang disembah, mereka didera ketakutan. Dan manusia yang memelihara ketakutan di dalam kepalanya, adalah komoditas yang paling murah untuk dikendalikan oleh meja kerja kami.”

​Membunuh Patung di Tengah Kabut

​Malam semakin bergerak ke arah fajar yang dingin. Di atas permukaan pasir pantai yang basah oleh pasang laut, suasana seolah berjalan melambat pekat.

​Siluet Tan Malaka muncul di antara gulungan ombak kecil. Namun malam ini, figurnya tampak kian samar, getaran cahayanya menipis laksana kabut—sebuah indikator bahwa eksistensinya sedang berada di fase akhir akibat pemikiran Rian yang mulai merobek seluruh mitos sejarah.

​“Jadi… lembar rahasia terdalam dari ketakutan intelektualku telah resmi ditelanjangi oleh sistem?” buka Tan Malaka, suara kekehan rendahnya berpadu dengan desau angin laut selatan. “Aku menggoreskan tesis itu karena rasioku memahami watak massa: jika gagasanku diubah menjadi patung berhala baru, maka esensi pergerakan akal sehat ini secara mekanis akan mati. Massa akan sibuk menyembah dan merayakan namaku di dalam ruang seminar, namun secara nyata melupakan seluruh isi metodologinya.”

​Rian melangkah mantap di atas pasir yang basah, menatap lurus ke arah siluet yang kian transparan itu. “Lalu arah mana yang harus diambil oleh rasio saya hari ini, Bang? Seluruh konstruksi mitos sedang dirontokkan secara paksa oleh keadaan, termasuk kultus terhadap nama besar Anda sendiri.”

​Tan Malaka menyunggingkan senyum satirnya yang terakhir—sebuah ekspresi ketabahan murni dari seorang ideolog yang kesepian.

​“Itulah sasaran objektif dan akhir dari perumusan traktat Madilog, anak muda,” ujar Tan, suaranya perlahan larut ke dalam gemuruh ombak samudra. “Tujuan utamanya sejak awal bukan untuk mencetak kalian menjadi barisan pengikut fanatik yang tunduk pada titahku. Sasaran tertingginya adalah menempa isi kepala kalian agar memiliki keberanian nyata untuk membunuh setiap berhala dan mitos suci… termasuk meruntuhkan mitos tentang diri saya sendiri. Hanya di atas puing-puing runtuhnya berhala itulah, revolusi pikiran yang murni baru bisa benar-benar dimulai.”

​Siluet sang pemikir melarut semakin cepat ke dalam kerapatan kabut malam samudra, menyisakan sebaris gema kalimat terakhir yang bergetar di sela rintik air laut.

​“Tetapkan keputusanmu dengan ketajaman nalar Materialisme yang utuh, Rian. Publikasikan data tersebut atau pilih jalur isolasi. Namun pasang perlindungan tertinggi pada kesadaranmu: sejarah membuktikan bahwa massa yang didera ketakutan akibat kehilangan mitos berhalanya, secara mekanis akan bergerak memburu dan mengeksekusi mati sang pembawa kebenaran.”

​Rian membuka matanya lebar-lebar, menatap bentangan laut selatan yang menolak berhenti bergolak. Di dalam genggamannya, diska lepas hitam itu terasa dingin. Di belakangnya, barisan korban sejarah menanti dengan mata terbuka. Fajar berikutnya tidak lagi menyisakan ruang bagi penyembahan berhala; pertempuran nalar kini resmi berdiri di atas kakinya sendiri.

(Bersambung)


Catatan Redaksi / Disclaimer:

Seluruh rangkaian narasi dalam serial “Madilog: Petualangan Pikiran yang Belum Selesai” ini merupakan karya fiksi spekulatif yang diinspirasikan dari traktat filsafat ekonomi-politik dalam buku MADILOG karya Tan Malaka.

Garis alur, karakterisasi tokoh (termasuk visualisasi tokoh sejarah), dinamika institusi, waktu, serta koordinat peristiwa yang digambarkan dalam teks ini sepenuhnya adalah rekaan kreatif penulis untuk kolom Literasi Anomali. Jika terdapat kesamaan nama tokoh, tempat kejadian, maupun konformitas situasi linier dengan realitas aktual dalam industri tambang nikel atau kebijakan birokrasi, hal tersebut merupakan kebetulan matematis dan tidak merepresentasikan kebijakan resmi dari institusi mana pun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *