UNGGAHAN VIDEO WARGA yang merekam kemunculan oarfish (ikan pita raksasa) di pesisir Pantai Pink, Kabupaten Lombok Tengah, mendadak viral dan memicu perbincangan hangat di media sosial. Spesies penghuni laut dalam (deep-sea creature) ini kembali diseret ke dalam narasi mitologis yang mengaitkan keberadaannya di permukaan air dangkal sebagai sinyal awal gempa bumi atau tsunami besar.
Antara Cerita Rakyat Jepang dan Realitas Ekologis
Dalam folklore Jepang, spesies ini dijuluki ryugu no tsukai atau utusan dari kerajaan dewa laut. Kepercayaan tradisional setempat meyakini kemunculan oarfish di pesisir pantai merupakan preseden buruk datangnya bencana alam. Stigma tersebut kian kuat di ruang publik lantaran sejumlah catatan historis fenomena terdamparnya ikan ini berdekatan dengan peristiwa gempa tektonik skala besar di beberapa wilayah.
Namun, literatur sains modern memberikan penjelasan yang berbanding terbalik dengan mitos tersebut. Peneliti biologi kelautan dan ahli oseanografi secara tegas menyatakan tidak ada korelasi sebab-akibat (causal link) antara fenomena seismik tektonik dengan migrasi vertikal oarfish ke permukaan pantai.
Perspektif Oseanografi: Faktor Fisik dan Biologis
Kenaikan oarfish dari kedalaman ratusan hingga ribuan meter menuju zona permukaan pesisir umumnya dipicu oleh variabel biologis dan oseanografis yang spesifik:
Dinamika Arus Laut Dalam: Dorongan arus laut (upwelling) yang kuat atau gangguan suhu air mendadak dapat menyeret ikan yang lelah atau lemah hingga terdampar ke wilayah pesisir tanpa kemampuan untuk kembali ke habitat asalnya.
Kondisi Kesehatan dan Disorientasi: Sebagian besar individu oarfish yang terdampar di air dangkal dalam kondisi sekarat, mengalami disorientasi navigatoris, atau menderita luka pada sistem sensorik tubuhnya.




